MAKALAH
Sejarawan
Abad 3-5 H.
Disusun Sebagai Tugas Kelompok
Mata Kuliah Historiografi Islam
Dosen Pengampu: Nyayu Soraya, M.Hum
Disusun
Oleh Kelompok 9:
Bagus Pamungkas (1532100092)
Adi Kurniawan (1532100075)
Desi Ratnasari (1532100099)
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI RADEN FATAH PALEMBANG
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
TAHUN
AJARAN 2016/2017
Sejarawan Abad
3-5 H.
A. Pendahuluan
Pada masa sekarang ini dalam dunia
sejarah islam, adalah masa dimana
sejarah islam dapat kita pelajari dengan mudahnya, referensi dalam bentuk buku
maupun dalam bentuk artikel sangat mudah kita dapatkan. Semua ini tidak lepas
dari jasa para sejarawan muslim yang menghafal, menulis sampai membukukan
kejadian-kejadian dan peristiwa yang terjadi di sekitar mereka, dari masa
klasik sampai pada masa dimana sejarah islam pada masa puncaknya di abad
pertengahan, yaitu masa kekhalifahan dinasti abassiyah.
Para sejarawan muslim mempunyai
metode ataupun cara yang bereda-beda dalam menulis sejarah islam. Hal ini
membuat beragamnya teori-teori sejarah yang mereka hasilkan. Seperti al-mas’udi
yang dalam penulisan sejarahnya menggunakan metode tematik, sehingga sejarah
yang dihasilkannya berurutan berdasarkan tahun kejadian. Berbeda dengan
penulisan sejarah yang tidak menggunakan metode tamatik, maka sejarah yang
dihasilkannyapun tidak berurutan berdasarkan tahun-tahun kejadian.
Dalam makalah ini akan dibahas sejarawan
muslim pada abad 3-5 H. Meliputi riwayat hidup dan karya-karyanya, serta
latarbelakang kehidupan dari para sejarawan tersebut.
B. Pembahasan
1. Al-Baladzuri
Namanya adalah Yahya bin jabir Al-Baladzuri,
Al-Baladzuri hidup pada abad ke-3 H/9 M. Ia berasal dari keturunan Persia di man
nenek moyangnya termasuk salah seorang sekretaris Ibnu-I –Khasib di Mesir.
Al-Baladzuri lahir di Baghdad, ibukota Dinasti Abbasiyah, lalu menimba ilmu
pengetahuan di Irak, Damaskus dan Humash (kota di Syiriah-penej). Ia sahabat
dekat Khalifah Al-Mutawakkil ‘Alallah Al-Abbasi, Khalifah Al-Muta’in Billah,
dan sempat mendidik Khalifah Al-Mu’taz wafat pada tahun 279 H/892 M setelah
terserang radang otak akibat memakan buah baladzur
sehingga di juluki Al-Baladzuri.ia adalah sejarawan persian yang hidup di baghdad
sezaman dengan ibnu sa’ad.[1]
Penulis futuh
Al-Buldan yang di beri pengantar dan diedit De. Geoje (Brill, Leiden: 1866
M) sekitar 536 halaman, termasuk lembar judul tambahan berbahasa Latin Liber Expugnationem Regionem. Karya ini
telah di cetak beberapa kali di Mesir, Suriah, dan Irak. Karya Al-Baladzuri
yang masih dapat ditemukan hanya dua buah. Masing-masing adalah Kitab Ansab Al-Asyraf yang berisi genealogi Al-Asyraf (para punguasa
keturunan Nabi SAW). sesuai kedekatan mereka dengan Nabi SAW. dan Futuh Al-buldan. Sebenarnya, karya
terakhir ini hanya berupa ringkasan dari sebuah karya komprehensif dalam tema
serupa. Sitematikannya dimulai dari paparan peperangan nabi SAW. dengan kaum
yahudi dan peperangan beliau melawan penduduk mekkahsertaThalif. Dilanjutkan
dengan sejarah gerakan kemutadan di masa Abu Bakar, penaklukan Syam, Irak,
mesir, Armenia, Maroko, serta wilayah persia. Uraian tersebut diselingi
observasi yang sangat penting mengenai sejarah peradaban dan kondisi sosial
seperti tentang tugas-tugas lembaga pemerintah, dokumen-dokumen peperana dengan
Byzantium, masalah-masalah perpajakan, penggunaan stempel, mata uang, dan
sejarah perkembanan tulisan Arab. Karya ini di anggap sebagai sumber paling
penting ihwal sejarah penaklukan-penaklukan Islam.[2]
Al-Baladzuri di akui oleh banyak pihak
sebagai figur yang berintegritas dan kritis. Ia belum puas jika sekedar
mendengar riwayat-riwayat sekali pun dari ulama paling otoritatif di Baghdad.
Untuk itu ia sengaja melakukan berbagai pejalanan untuk meneliti fakta. Selain
itu, ia dikenal cermat dan kritis dalam mengklarifikasi riwayat-riwayat yang
dihimpunnya.
2. Sawirus Bin Al Muqaffa Al Anthaki
Sawarus bin Al muqaffa, penulis siyar Al-Aba Al-Bathariakah atau sejarah
kehidupan para pendeta geraja kristen mesir yang telah dipublikasiakan oleh Eventts paris (1907, 1910, 1915 M) pada
kompilasi patralogia orienta Aus I-V-X.
Sawirus adalah seorang uskup bagi penduduk Asymuniyin, wilayah antara kota
Al-mian dan Asyuth Mesir di masa Khalifah Dinasti Fatimiyah Al-Mu’iz Lidinillah
(abad ke-10 M).ia menekuni dunia tulis menulis karena menguasai bahasa Arab
dengan baik. Karya-karyanya mengenai teologi kristen Ortodoks terbilang cukup
banyak dan salah satunya Al-Aba
Al-Bathariakah. Karya tersebut di susun berdasarkan data-data yang diambil
dari berbagai peninggalan dan dokumen berbahasa Qibthi, Yunani, hingga Arab.
Dalam hal ini, ia meminta bantuan para uskup yang menguasai bahasa Qibthi dan yunani untuk memahami
sumber-sumber tersebut. Karya ini diselesaikan para penulis dan uskup
penulisnya. Eventts mempublikasikan
karya sawirus berikut terjemahannya dalam bahasa inggris ditambah berbagai
catatan kaki dan komentar. [3]
Jelasnya, karya ini berisi biografi para
pemuka kristen di Mesir semenjak kemunculan agama kristen sampai masa khalifah
Al-amir biahkmillah tahun 496 H. Fakta-fakta sejarah pada karya ini masih
bercampur dengan kisah-kisah; mistik-mistik; dan mukjizat-mikjizat. Urgensi
historis karya ini karena merekam fakta-fakta mengrenai para penguasa dan
penjabat muslim yan berkuasa di mesir hingga era Dinasti Fathimiyyah. Kemudian
relasi para pemuka kristen dengan mereka, penganut Kristen di Nubah, Habasyah,
Afrika Utara, dan Syam. Sawirus juga mencatat relasi kaum muslim dan kristen di
mesir, reformasi di gereja-geraja di Mesir, masalah toleransi beragama,
sistem-sistem keuangan dan perekonomian, sistem sosial dan hukum masyarakat kristen Qibthi, konvers warga
kristen ke islam, serta peristiwa-peristiwa keagamaan di masa khalifah Al-Mu’iz
Lidinillah Al-fathimi.
Sawirus juga merekam sejarah kota
Iskandariah dan peran strateginya dalam masa perdagangan itu. Secara spesifik
karya ini sangat penting karena merekam sikap masyarakat kristen mesir terhadap
perang salib yang mereka anggap sebagai invansi terhadap dunia timur. Komunitas
dokumentasi Qibthi telah mempublikasikan bagian dari karya sawirus yang belum
di terbitkan oleh Eventts. Karena itu muncul juz I dari jilid kedua (1943 M),
juz II (1948 M), dan juz III (1959 M). Kemudian dipublikasikan pula terjemahan
inggris dari setiap juz.
3. Al-Ya’kubi
Dalam biografi ini kita akan mengkaji
sebuah simpanan dari khazanah tradisi kita, yaitu buku Al-buldan, karya monumental pengembara Arab kenamaan Al-Ya’kubi.
Sekali lagi Al-Buldan dan bukan Mu’jam Al-Buldan karya Yakut Al-Hamwi. kita
akan berusaha semaksimal mungkin menelusuri perjalan karya ini dan menggali
segi-segi kepribadian berikut pemikiran penulisnya. Tokoh kita ini adalah
Al-ya’kubi sekaligus karya par-excel-lent-nya
Al-buldan, salah satu mutiara dari khazanah tradisi tersebut. Ya, dialah
Al-ya’kubi atau lengkapnya Ahmad bin Wadhih Al-ya’kubi, yang menurut pendapat
mayoritas ulama wafat tahun 284 H. Namun karya di atas telah dipublikasikan
tanpa melalui penyutingan secara ilmiah dan seksama sesuai metodologi ilmiah penyutingan
sebuah naskah.[4]
Naskah ini pernah dipublikasikan dua kali. Pertama, di Leiden (1861 M) di bawah
supervisi orentialis jubnol dan edisi yang sama diterbitkan kembali oleh
orieantalis De Goeje di sejumlah perpustakaan geografi sebanyak 8 jilid. Kedua, di Heyderabad dan sempat di
cetak ulang sebanyak tiga kali. Namun naskah yang kita dapatkan adalah edisi
ketiga yang berkualitas rendah terbitan tahun 1377 H/1957 M.
Kembali lagi, penulis kita kali ini ialah
Ahmad bin Abi Ya’kub Ishak bin Ja’far binWahab bin Wadhih. Seorang penulis asal
Ish-fahan, sejarawan, dan muhaddits.
Konon, Al-Ya’kubi adalah sahaya Bani Abbas sekaligus peneliti masalah geografi,
kesejarahan, dan sejarah-sejarah negara. Ia telah melakukan riset selama
perjalanan nya ke berbagai belahan dunia. Ia pernah ke persia (Iran) dan
menetap cuup lama di wilayah asia dan lautan kecil,balkan, Qazwain pada tahun 260 H. Kemudian
mengunjungi semenanjung India (Afrika Selatan), Semenanjung Arab dari Syam, Palestina,
Al-khalil, Al-Quds, Yordania, Suriah, dan Libanon. Selanjutnya ke wilayah
Libia, Aljazair, Maroko, dan Tunisia melalui Mesir. Ia membenamamkan diri dalam
penelitian geografi sehingga selalu mewawancarai para penduduk suatu daerah
mengenai mereka sendiri, daerah itu, adat-istiadat, tradisi, tokoh-tokoh,
agama-agama, makanan, minuman, pemerintahan, dan jarak antara wilayah mereka
dengan wilayah sekitarnya. Setelah meyakini validitasi data-data itu maka ia
segera mencatatnya.
Al-Ya’kubi juga mencatat sejarah
penaklukkan berbagai wilayah (Islam atau non-Islam), cara-cara penaklukan, para
khalifah, penguasa, ulama, dan panglima perang yang membuka atau
menaklukkannya. Ia juga membicarakan soal sumber daya ekonomi, income, dan alokasinya. Data besar
maupun kecil tetap dicatat dalam Al-buldan.
Berdasarkan fakta di atas, kita yakin bahwa
karya Al-Ya’kubi merupakan sumber data georafis paling awal serta paling
otoritatif karena isinya berasal dari kerja keras dan pencapaian yang melampaui
masanya. Karaya ini memuat concern
dan rehabilitas ilmiahyang sangat diperhatikan oleh masyarakat modern. Ia sarat
analisis, ketelitian, dan integrasi yang menunjukkan kesungguhan dan perhatian
penulisnya terhadap ilmu pengetahuan.
Popularitas Al-Ya’kubi memuncak pada abad
ke 3 H karena ia masih hidup hingga tahun 292 H. Kebiasaan Al-Ya’kubi
berkontemplasi dari realitas saat ini menuju realitas masa lalu mengigat kita
pada gaya Al-Falasy Bek, tokoh sastra
Arab kontemporer. Hal ini membawanya ke dunia imajinasi sehingga saat tidur
malam ia sepert mendengar sura yang menyatakan: “segala kekusaan, kekayaan, dan
perhiasan Bani Thulun kini telah sirna dan menjadi masa lalu”. Al-ya’kubi
mempuitisikan Bani Thulum dan kerajaan mereka yang berumur panjang. Kepiawaian
dan keindahan kata-katanya dalam melukiskan Bani Thulum berikut kebesaran
kerajaan; istana; dan taman-taman mereka membukyikan bahwa ia adalah penyair
bercitra rasa seni tinggi. Sengaja kami singgung Al-Ya’kubi sebagai sosok
seorang penyair agar mereka yang berminat dapat menghimpun syair-syair yang
tersebar dalam berbagai karyanya dan sumber-smber lainnya. Dengan demikian,
kami tidak hanya menyodorkan sosok Al-Ya’kubi sebagai ilmuwan, sejarawan, dan
pakar geografi, tetapi juga sastrawan. Berdasarkan bait-bait syair di atas,
Al-Ya’kubi dapat dianngap sebagai sastrawan istana sebagaimana Ibn ‘Abdun yang
menjadi sastrawan Bani Al-Afthas di spanyol.[5]
Mengenai karya-karya Al-Ya’kubi, Yakut
Al-Hamwi menyebutkan dalam Mu’jam
Al-Buldan bahwa di antara karyanya yang paling penting ialah Tarikh Al-Kabir yang berjumlah dua jilid
(juz). Jilid pertama mengenai sejarah kuno sebagaimana biasanya sejak masa nabi
adam dan seterusnya hingga kehadiran islam.bagian ini juga mencakup sejarah
Bani Israil, Bangsa Syirian, hindu, Yunani, Romawi, Persia, Babilonia, Mesir,
Yaman, Ghassan, dan Lakhhmid di sekitar jazirah Arab. Tarikh Al-Kabir memiliki beberapa kelebihan di bandingkan dengan
karya-karya sejarah sejenis yang pernah ada. Di antara kelebihan itu adalah :
a. Karya sejarah komprehensif yang paling awal.
b. Uraiannya netral dan lepas dari tendisi-tendisi tertentu.
c. Berisi masalah-masalah faktual.
d. Berimbang dalam menilai para sejawan lain meskipun terdapat perbedaan pendapat dengan mereka.
e. Gaya bahasanya memikat sehingga pembaca seolah-olah melihat langsung peristiwa yang diungkapkan.
f. Urainnya logis,sistematis, dan rapi.
g. Hampir tidak ditemukan kekeliruan gramatika atau kebahasaan sama sekali.
Karya kedua Al-Ya’kubi Al-Buldan adalah
buku geografi yang metodologinya telah dibicarakan di atas. Berikutnya ialah
risalah kecil berjudul Akhbar Al-Umam
As-Salifah dan risalah kecil lainnya berjudul Musykilah An-Nas Lizamanihim yang dapat dikatakan sebagai refleksi
dan komentar singkat penulisnya tentang manusia dan kehidupan. Demikian empat
karya yang disebutkan Yakut Al-Hamwi.
4. Al-Kindi
Yang pasti, nama Al-Kindi ini bukanlah nama
seorang filsuf kenamaan. Nama sebenarnya adalah Abu Umar Muhamad bin Yusuf
Al-Kindi Al-Mishri, penulis Kitab
Al-Wulat wa Al-Qudhat, yang telah disunting oleh R. Guest dan
dipublikasikan di beirut (1908M). Al-Kindi
adalah seorang sejarawan Muslim Mesir. Lahir tahun 283H/897 M. di Mesir dari
klan kindah yang bermigrasi kemesir pada masa penaklukan Amru bin ‘Ash. Ia
menetap di fusthat hingga akhir hayatnya ditahu 350 H/961 M. Meskipun banyak
menggeluti bidang hadis, tetapi ia memiliki minat yang besar terhadap sejarah
Mesir dan berbagai peninggalannya.[6]
Diantara karyanya paling populer ialah mengenai sejarah para
penguasa dan qadhi di Mesir. Bagian awal Kitab
Al-wulat Al-Qudhat mencatat biografi
para penguasa Mesir dan panglima perang. Catatan ini diselingi dengan uraian
mengenai kondisi domestik maupun internasional Mesir. Ia menulis sejarah Mesir
hingga wafatnya Al-Ikhsyid tahun 335
H/946 M. Al-Kindi menambahi catatan biografi para penguasa dengan catatan qodhi
Mesir sampai kepimpinan qodhi Bakar tahun 246 H/861 M. Ahmad bin Abdurrahman
bin Barad menambahi catatan karya ini hingga sejarah tahun 366 H/977 M. Lalu
dilanjutkan oleh penulis anonim hingga catatan tahun 347-424 H/959-1033 M.
Ditilik dari sejarah peradilan, karya ini
terbilang sangat penting karena memcatat berbagai keputusan penting yang
ditetapkan para qadhi. Pada tahun 1908 M. R. Gottheil mempublikasikan karya ini dibawah
judul The History of Egypetian Qadhis.
Selain memerbikan Al-Kindi, publkasi R. Gottheil juga mencantumkan suplemen
yang diambil dari karya Ibn Hajar Al- Asqalani Raf’u’ Al-Ishr’an Qudhat
Al-Mishr.
5. Miskawaih
Ia
adalah Ali Ahmad bin Muhamad Miskawaih, Ia lahir pada tahun 320 H/932 M di Rayy
dan meninggal di Istafhan pada tanggal 9 Shafar tahun 412 H/16 Februari 1030 M,
Ibnu Miskawaih hidup pada masa pemerintahan dinasti Buwaihiyyah (320-450
H/932-1062 M) yang besar pemukanya bermazhab Syi’ah.[7] Penulis Tajarub Al-Umam wa Ta’Aqub Al-Himam, yang
dipublikasikan sebanyak tiga juz di Kairo (1915-1916 M). Juz terakhir karya ini
tampaknya suplemen dari tajarup Al-Umam karya Abu Syuja’ ditambah tulisan Hilal
As-Shani mengenai sejerah islam hingga tahun 393 H. Nenek moyang miskawaih
adalah penganut agama masuji sebelum memeluk islam. Perjalanan hidupnya kurang
banyak diketahui. Informasi yang tersedia hanya menyebutkan ia adalah penjaga buku-buku koleksi wazir
Al-Muhallabi. Kemudian bekerja Ad-Daulah dan Shamsham Ad-Daulah dari dinasti
buwaih. Karirnya semakin cemerlang saat menjadi
pejabat di kota Ray. Miskawaih
dikenal berintegrasi dan lugas dalam mengungkapkan pikiran-pikiranya. Sejak
muda ia telah mendalami ilmu filsafat, kedokteran, dan al-kimia.[8]
Karya monumentalnya dibidang sejarah, Tajarup Al-Umam, mengupas masa dinasti
Abbasiyyah sejak tahun 295 H termasuk kondisi sosial politik, konflik-konflik,
dan konflik Abbasiyyah dengan wilayah-wilayah sekitarnya seperti Bysantium.
Selain itu, juga mengupas sejarah Dinasti Buwaihi dan dinilai sebagai sumber
orisional mengenai sejarah islam dimasa kritis tersebut terutama yang berkaitan
dengan sejarah sistem administrasi, moneter, dan kemiliteran. Miskawaih wafat
tahun 421 H/1030 M. Karya miskawaih ini telah diterjemahkan kebahasa inggris
oleh Margholioth dan Amedroz dengan judul The
Eclipse of the Abbasid Caliphate dan dipublikasikan pertama kali di london
(1920-1921 M).[9]
6. Al-Shabi
Ia adalah Abu-I-Hasan Al-Hilal bin Ibrahim
Al-Ibrahim Al-Shabi, penulis tuhfah
Al-Umara fi Tarikh Al-Wuzara dan Ma Tabqa min Kitabah fi At-Tarikh yang
disunting oleh H.F. Amedroz dan diterbitkan dibeirut (1904 M). Ia lahir tahun
359 H. Pada mulanya menganut agama shabi’an, lalu seperti keluarganya yang
lainya ia memeluuk islam tahun 399 H. Ibunya adalah saudara perempuan sejarawan
sekaligus dokter, Tsabit bin Sinan bin Qurrah. Al-Shabi pernah menjadi
sekertaris di istana Abi Ghalib Muhamad biin Khalaf dan wafat tahun 448 H/1056
M.[10]
Selain yang dipublikasikan Amedroz, ia
tidak memiliki karya lain. Bahkan karya itu juga hanya berupa suplemen terhadap karya
pamannya, Tsabit bin Sinah yang mencatat pristiwa-pristiwa antara tahun 360-447
H. Amedroz sendiri hanya mempubliikasikan catatan pristiwa antara tahun 389-393
H. Bagian yang diterbitkan iini sangat
penting karena berasal dari data-data yang diduga telah hilang. Meskipun karya
tersebut banyak membahas pristiiwa-pristiwa yang terjadi di Bagdad, tapi
paparannya tidak lepas dari tugasnya sebagai sekertaris lembaga korespondensi
karena mecamtumkan arsip-arsip otentik dan catatan-catatan dokumenter. Semua
data tersebut semaksimal mungkin ia sajikan secara sistematis lewat ungkapan
bahasa Arab yang lugas dan rapi.
Adapun mengenai Tuhfah Al-Umara fi Tarikh Al-Wuzara, sejauh pengakuan penulisnya
pada bab pendahuluan, tidak lebih dari suplemen terhadap tema serupa yang telah
ditulis Al-Jahasyiari (w.331 H) dan Al-Shuli (w. 335 H/916 M). Bagian yang
dipublikasikan membahas para tokoh dan pristiwa-pristiwa di masa Wazir
penggantinya, Ibn Khaqan dan Ali bin Dawud. Pada bagian pendahuluan disebutkan
bahwa maksud buku tersebut ialah mencatat informasi-informasi kementrian dalam
uraian yang utuh. Pada tahun 1958 buku ini diterbitkan ulang dan disunting oleh
(alm) prof. AbdSattar Faraj.
7. Atsa’alabi
Berdasarkan riwayat Ibn Bisama, Ibnu
Khalikan mengatakan bahwa Al-Tsa’labi “semasa hidupnya adalah penjaga
puncak-puncak ilmu pengetahuan, penyair ulung, penulis terkemuka, pemimpin para
perang, populer, dan pujaan setiap orang. Akan tetapi sayangnya ia kurang
diperhatikan oleh para sejarawan mengenai Arab-Isalm dan penulisan biografi.
Nama sebenarnya adalah Abu Mansur Abdul
Malik bin Muhammad bin Ismail Al-Naisaburi Al-Tsa’alabi. Lahir sekitar tahun
350 H. Dan wafat sekitar 430 H. Nama Al-Tsa’alabi diambil dari kata Al-Tsa’alib
(pelanduk) karena ia alergi terhadap bulu binatang itu. Konon, nama ini juga
diambil karena ia saudagar kulit binatang berbulu. Al-Tsa’labi laksana purnama
kalangan sastrawan dan bintang mereka yang cemerlang. Ia sangat concern terhadap
perkembangan sastra dan kesenian di masa hidupnya, menelaah berbagai karya
kebudayaan lain yang teah diterjemahkan ke dalam bahasa arab, menguasai seluruh
isi karya yang teah dituinya, dan menghafal ungkapan-ungkapan syair pilihan
yang dikutup oleh para periwayat. Tokoh ini menguasai aneka pemikiran dan para
tokohnya dan menhghafal ekspresi para penyair di baghdad, naisabur, damaskus,
halaba, kairo, qayrawan, qordoba, dan sevilla.bahkan ia tidak pernah melewatkan
satu bukupun tanpa membaca dan mencatat daam karyakaryanya. Dari karya-karyanya
juga diperoleh data bahwa ia dekat dengan para penguasa, dihorati dan
diberiperlindungan oleh mereka.[11]
Sebagai seorang penyair, A-Tsa’labi adalah
penyair ulung, imajinatif, kreatif mengoah kata-kata, dan piawai mengungkap
makna. Semasa hidupnya Atsa’abi meahirkan sekitar 80 karyadibidang sastra, bahasa
dan sejarah.karya-karya itu menata aneka ilmu pengetahuan dan menggambarkan
sosok para tokoh, penyair, dan penulis masa itu.
8. Yahya bin Said Al-Antaki
Dialah penulis Dzail A-Tarikh yang
terbit di beirut (1909 M.) di termasuk kerabat dekat Sain bin Al-Bithriq yang
lahir di antiokia tahun 403 H./1012 M. Di kota inilah ia mempelajari berbagai
karya penting. Uraian karya ibn said ini dimulai dari peristiwa hijrah Nabi
SAW. hingga tahun 425 H. Karya ini memaparkan berbagai peristiwa politik,
militer dan diplomatik Dinasti Bizantyum; Dinasti Abbasiyah; Dinasti Fatimiyah;
dan hubungan antara pendeta di iskandariyah, antiokia, dan konstantinopel.
Termasuk mengenai infasi Bizantyum ke bulgaria dan berbagai konflik
internalnya. Urgensi buku ini terletak pada keseriusan penulisannyadalam
menggambarkan kondisi sosial dan reasi antara elemen yang beraneka ragam dalam
wilayah yang dikajinya.[12]
Di samping itu penulis juga beupaya
menyajikan teks-teks keputusan komunitas-komunitaskeagamaan, berbagai
perjanjian dan gencatan senjata antara berbagai negeri, dan gambaran kondisi
perekonomian terutama saat terjadi krisis ekonomi menyusul surutnya debit air
sungai Nil serat korupsi para penguasa. Al-Antaakhi juga menyajikan
peristiwa-peristiwa yang terjdai akibat perluasan wilayah perbatasan Byzantyum
di masa kekuasaan keluarga macedonia.
Karena karya ini terbilang sangat penting,
setiap sejarawan yang mengaji sejarah Byzantium menganggapnya sebagai sumber
primer terutama bagi mereka yang ingin mencocokan data-data yang dimuat buku
ini dengan data-data dengan karya-karya sejarawan Byzantium. Kelebihan ini
diketahui dengan pengetahuan penulisnya mengenai model relasi antara para
penguasa, raja-raja, dan kaisar di Timur dan Barat masa itu.
C. Penutup
Yahya
bin jabir Al-Baladzuri, hidup pada abad ke-3 H/9 M. wafat tahun 279 H/892 M. Karyanya
adalah Futuh Al-buldan.selanjutnya adalah Sawarus bin Al
muqaffa. mengenai riwayat hidupnya, tidak banyak diketahui. Ia hidup di masa
Khalifah Dinasti Fatimiyah Al-Mu’iz Lidinillah (abad ke-10 M). salah satu karyanya
Al-Aba Al-Bathariakah. Kemudian Ahmad bin Wadhih Al-ya’kubi, menurut pendapat mayoritas ulama
wafat tahun 284 H. karya monumental pengembara Arab ini adalah buku Al-buldan.
Abu
Umar Muhamad bin Yusuf Al-Kindi Al-Mishri, Lahir tahun 283H/897 M. wafat tahun
350 H/961 M. Ia adalah penulis Kitab
Al-Wulat wa Al-Qudhat. Selanjutnya
adalah Ali Ahmad bin Muhamad Miskawaih lahir tahun 320 H/932 M di Rayy dan
meninggal tahun 412 H/1030 M. Ia hidup pada masa pemerintahan dinasti
Buwaihiyyah. Karya monumentalnya dibidang sejarah, Tajarup Al-Umam.
Abu-I-Hasan
Al-Hilal bin Ibrahim Al-Ibrahim Al-Shabi. lahir tahun 359 H. dan wafat tahun
448 H/1056 M. Karyanaya yang fenomenal adalah tuhfah Al-Umara fi Tarikh Al-Wuzara dan Ma Tabqa min Kitabah fi
At-Tarikh. Kemudian Abu
Mansur Abdul Malik bin Muhammad bin Ismail Al-Naisaburi Al-Tsa’alabi. Lahir
sekitar tahun 350 H. Dan wafat sekitar 430 H. Tang terakhir adalah Yahya bin
Said Al-Antaki lahir tahun 403 H./1012
M. Dia adalah penulis Dzail A-Tarikh.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Ghani, Yusri Abdullah. 2004. Historiografi Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Biografi-dan-karya-ibnu-miskawaih.pdf
Jafri. 1995. dari
saqifah sampai imamah: awal dan sejarah perkembangan islam syi’ah, Bandung: Pustaka Hidayah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar